Showing posts with label Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi. Show all posts

Monday, July 20, 2015

CERITA DALAM CERAMAH



Lebaran sudah berakhir saya masih ada stok tulisan yang belum di publish, awalnya saya niatkan untuk sebuah koran di Bandung dengan huruf awal P dan R (PR) apa daya tulisan saya ini tidak muncul - muncul selama Ramadhan. Namun, saya tidak berkecil hati karena niat saya menulis tidak semat-mata untuk menjadi populer di media. biarlah saya tidak populer di media sebagai intelektual selebriti, tapi saya bisa bahagia dengan menuliskan apapun yang ada dibenak saya dan ingin sekali saya muntahkan. Jadi inilah tulisan itu..


Friday, April 03, 2015

Pentingnya Mempelajari Diksi Baru

berkontemplasi dengan kata 

Hari ini pertemuan kedua terakhir memberiak materi kemampuan verbal dalam Tes Potensi Akademik, mungkin beberapa diantara murid menganggap tidak begitu penting kemampuan verbal namun disadari atau tidak kemampuan verbal adalah kemampuan yang dipakai seumur hidup sampai kita tua. Sinonim Antonim, Analgi, Kelompok kata betapa berwarnanya hidup kita dengan berbagai kata baru jadi tidak monoton.

Tuesday, August 19, 2014

Fenomenologi Berawal.....

Ini Janji saya semalam,  lanjutan dari The Dual Legacy. Sambil menunggu kuliah hari kedua pukul 07:50, tentang Aristoteles. Hal yang penting yang membedakan The Dual Legacy, Plato menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, sedangkan Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Ini loh yang menjelaskan tentang gambar Plato yang nunjuk keatas artinya bentuk ideal sebuah benda pernah ada, artinya kita sekarang udah tau idealnya bagaimana, sedangkan Aristoteles menyatakan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena dia ada (eksis) ini loh dasar kita melihat penelitian metode Fenomenologi.





ARISTOTELES

Aristoteles lahir di Stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia, Yunani (dahulunya termasuk wilayah Makedonia Tengah) tahun 384 SM. Ayahnya adalah tabib pribadi Raja Amyntas dari Makedonia. Pada usia 17 tahun (waktu umur 17 tahun inget gak, kalian jadi murid suapa?).

Aristoteles bergabung menjadi murid Plato. Belakangan ia meningkat menjadi guru di Akademi Plato di Athena selama 20 tahun. Aristoteles meninggalkan akademi tersebut setelah Plato meninggal, dan menjadi guru bagi Alexander dari Makedonia. Saat Alexander berkuasa di tahun 336 SM, ia kembali ke Athena. Dengan dukungan dan bantuan dari Alexander, ia kemudian mendirikan akademinya sendiri yang diberi nama Lyceum, yang dipimpinnya sampai tahun 323 SM.

Hasil karyanya banyak sekali. Akan tetapi sulit menyusun karyanya itu secara sistematis. Berbeda-beda cara orang membagi-bagiannya, ada yang membaginya menjadi 8 bagian, yang mencakup masalah logika (enam makalah, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting), metafisika, etika, politik, psikologi, biologi, ekonomi dan filsafat alam dan akhirnya retorika dan poetika.

Filsafat Aristoteles berkembang pada waktu ia memimpin Lyceum. Ada juga orang yang menguraikan perkembangan pemikiran Aristoteles melipti 3 tahap, yaitu:
1. Tahap di Akademi, ketika ia masih setia kepada gurunya Plato, termasuk ajaran Plato tentang ide.
2. Tahap ia di Assos, ketika ia berbalik dari Plato, mengekritik ajaran Plato tentang ide-ide serta menentukan filsafatnya sendiri
3. Tahap ketika ia di sekolahnya di Athena, waktu ia berbalik dari spekulasi ke penyelidikan empiris, mengindahkan yang kongkrit dan yang individual.

Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).

Berpikir dilaksanakan dengan perantaraan pengertian-pengertian (meja, kursi, perkakas rumah, dll). Menurut Aristoteles, tiap pengertian berpautan dengan benda tertentu, oleh sebab itu, tiap pengetahuan adalah suatu penggambaran kenyataan. Segala pengertian dapat dihubungkan yang satu dengan yang lain menurut tertibnya dan dapat disusun menurut sifat-sifat yang umum.

Penggolongan menurut sifatnya yang umum ini dapat diperluas lagi hingga sampai kepada kelompok pengertian yang tidak dapat diturunkan dari kelompok yang lebih tinggi lagi, sampai kepada kelompok pengertian yang telah mencakup apa saja yang dapat dikatakan tentang sesuatu. Kelompok paling umum ini disebut kategori. Ada 10 kategori, yaitu:

1. substansi (manusia, binatang, dll)
2. kuantitas (dua, tiga, sepuluh, dll)
3. kualitas (putih, busuk, dll)
4. relasi (rangkap, separoh, dll)
5. tempat (di pasar, di rumah)
6. waktu (kemaren, sekarang, besok, dll)
7. keadaan (duduk, berdiri, dll)
8. mempunyai 9bersepatu, bersuami, dll)
9. berbuat (mengiris, membakar, dll)
10. menderita (terbakar, terpotong-potong, dll)

Kadang ia hanya membuat kategori menjadi 8, tetapi yang paling penting adalah 4 kategori pertama.

Ajaran Aristoteles yang mengenai fisika dan merafisika tidak senantiasa dapat dibeda-bedakan dengan jelas. Sebutan "metafisika" sebenernya memang hanya suatu sebutan yang kebetulan saja. Istilah ini tidak bcrasal dari Aristoteles sendiri. melainkan dari Andronikos dari Rhodos (± 70 SM). la menyusun karya-karya Aristoteles dcngan cara demikian, bahwa karya-karya Aristoteles tentang "filsafat pertama", yang mengenali hal-hal yang bersifat gaib, ditempatkan sesudah karya-karyanya tentang fisika (meta fisika). Kala meta mempunyai arti rangkap, yaitu: sesudah dan di belakang. Judul meta fisitka ketika itu dipandang sebagai tepat sekali untuk dipakai guna mengungkapkan isi pandangan-pandangan yang mengenai "hal-hal yang di belakang gejala-gejala fisik".

Ajaran Aristoteles tentang “yang ada” didasarkan atas ajaran para filsuf pendahulunya. Plato telah memecahkan persoalan yang dihadapi Heracleitos dan Parmenides dengan memandang persoalan itu dari segi keberadaan manusia.

Heracleitos dan Parmenides dihadapkan dengan pemilihan yang sulit, yaitu “apakah kenyataan itu berada di dalam ‘ada’ yang tak berubah, atau di dalam ‘gejala-gejala’ yang terus menerus berubah? Herakleitos hanya mau mengakui gerak saja dan menolak segala gagasan tentang perhentian. sedang Parmenides hanya mau mengakui perhentian saja dan menolak segala gagasan tentang gerak dan peruhahan.

Plato telah mecahkan persoalan itu demikian, bahwa yang serba berubah itu memang ada dan dikenal oleh pengamatan, sedang yang tidak berubah. yaitu idea-idea, dikenal oleh akal. Jadi menurut Plalo ada dua bentuk "yang ada", yaitu bentuk yang dapat diamati, yang senantiasa berubah dan bentuk yang tidak dapat diamati, yang tidak berubah. Hubungan antara kedua bentuk "ada" itu adalah demikian, bahwa "yang tampak" adalah pengungkapan dari "yang tidak tampak”.

Aristoteles tidak setuju dengan pemecahan Plato ini. “Ada” yang olehnya disebut ousia, dalam arti yang sebenarnya hanya dimiliki oleh benda-benda yang kongkrit, artinya: yang sungguh-sungguh berada hanya benda-benda yang kongkrit (meja itu, kursi itu. rumah itu, dll, yang di­amati itu). Di luar benda-benda yang kongkrit, dan di sampingnya tiada sesualu yang berada. "Ada" yang bersifat umum. yang mengungkapkan jenis sesuatu, terdapat di dalam benda yang kongkrit dan bersama-sama dengan benda yang kongkrit itu. Dapat dikatakan, bahwa pengertian­pengertian yang umum (manusia, binatang. dll) hanya mengungkapkan apa yang dimiliki bersama oleh sekelompok benda. Pengertian umum hanya sebutan saja, bukan benda, sekalipun yang dimaksud dengan benda itu hal yang gaib, seperti yang diajarkan oleh Plato.

Inti sari ajaran Aristoteles yang mengenai fisika dan metafisika terdapat dalam ajarannya yang disebut dunamis (potensi) dan energia (aksi). Semua ajaran ini dipakai guna memecahkan soal perubahan dan gerak. "Yang ada" dalam arti yang mutlak adalah apa yang telah terwujud. “Yang tidak ada" hanya dapat menjadi "yang ada" secara mutlak, atau menjadi "yang ada" secara terwujud, jikalau melalui sesuatu, Di antara "yang tidak ada" dan "yang ada" secara mutlak itu terdapat "ada yang nyata-nyata mungkin", atau "yang ada” sebagai kemungkinan, sebagai bakat. sebagai potensi, sebagai dunamis.

Perubahan dan gerak dalam arti yang Iebih luas mencakup hal "menjadi" dan "binasa" serta segala perubahan lainnya, baik di bidang bilangan maupun di bidang mutu dan di bidang ruang. Tiap gerak sebenarnya mewujudkan suatu perubahan dari apa yang ada sebagai potensi ke apa yang ada secara terwujud. Untuk itu diperlukan adanya suatu penggerak yang pada dirinya sendiri telah memiliki kesempurnaan, yang tidak perlu disempurnakan.

Penggerak pertama, yang tidak digerakkan oleh penggerak yang lain ini tidak mungkin dibagi-bagi, tidak mungkin memiliki keluasan serta bersifat fisik. Kuasanya tak terhingga dan kekal. Penggerak pertama yang demikian itu tidak berasal dari dalam dunia, sebab di dalam jagat raya ini tiap gerak digerakkan oleh sesualu yang lain. Penggerak pertama ini adalah Allah. Ialah yang menyebabkan gerak abadi, yang sendiri tidak digerakkan, karena bebas dari materi. Allah adalah Purus, Aktus dan Murni.

Tiap gerak diandaikan adanya tujuan. Dunia ini bertujuan, perkembangannya bergantung pada tujuan itu. Tiap hal yang alamiah memiliki potensi untuk merealisasikan diri sesuai dengan tujuannya. Segala sesuatu di dalam alam raya ini bertujuan. Jagat raya laksana seorang tuan rumah yang baik, yang tidak membuang apa yang berguna. Tujuan gerak segala badan jagat raya itu bukan untuk mencapai kesempurnaan, tetapi untuk menuju kepada Penggerak yang tidak digerakkan, yang tidak berada dalam ruang yang terbatas, yang tidak bersifat badani, yang adalah bentuk aktus murni, yaitu Allah, Ialah yang menggerakkan badan jagat raya ini.

Ajaran Aristoteles tentang manusia melalui dua tahap, yaitu:
1. Tahap pertama masih dipengaruhi oleh Plato, mengajarkan tentang dualisme tubuh dan jiwa serta mengajarkan praeksistensi jiwa.
2. Kemudian meninggalkan dualisme itu. Tubuh dan jiwa dipandang sebagai dua aspek dari satu substansi, yang saling berhubungan, jika tubuh adalah materi, maka jiwa adalah bentuknya. Jiwa adalah aktus pertama yang membuat tubuh menjadi hidup. Pada waktu manusia mati, jiwanya ikut binasa, maka tiada praeksistensi jiwa dan tidak ada jiwa yang tidak dapat mati.

Ajaran Aristoteles tentang negara berhubungan erat dengan etika. Dapat dikatakan, bahwa ajarannya tentang negara mewujudkan lanjutan dan penyelesaian ajarannya tentang etika. Manusia adalah zoon politikon, makhluk sosial, makhluk hidup yang membentuk masyarakat. Demi keberadaannya dan demi penyempurnaan dirinya diperlukan persekutuan dengan orang lain. Untuk keperluan itu dibutuhkan negara. Negara bertujuan untuk memungkinkan hidup dengan baik, seperti halnya dengan segala lembaga yang lain.

Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarkhi. Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti fisika, astronomi, biologi, psikologi, metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.

Dapat dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas pada abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 - 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 - 1198).

Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau "the master of those who know", sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.

Ah, akhirnya TAMAT BAB 1



Tuesday, October 05, 2010

Zainudin MZ

Pagi ini melihat seorang wanit yang menceritakan tentang hubungannya dengan seorang kiayi ternama Zainudin MZ. Ulama yang katanya sejuta umat itu telah mengejar-ngejar wanita cantik bernama Aida dsejak gadis itu remaja.

Apa yang telah dilakukannya selama berhubungan, menginap di hotel. Nah baru saat ini dia menceritakannya pada khalayak saat popularitas Sang Ulama kembali naik. tujuannya apa? tentu saja berusaha menurunkan kembali citra lelaki yang senang berpeci ini.

kok dia mau sih mengumbar aib pak haji dan terntunya aib dirinya sendiri. oh tentu mau saja toh gak rugi, bahkan mungkin bisa numpang beken. tidak ada citra yang harus dijaga di mata publik. nah ini pelajaran bagi para lelaki memilih selingkuhan itu jangan sembarangan. dan satu lagi apa yang kita kerjakan pasti akan diperhitungkan se kecil apaun

Saturday, April 11, 2009

satu malam di rumah kontrakan

Habis melihat rumah yang akan kita tinggali selama dua tahun ini
haduh kita kok malah berantem gara2 sebuah kamar kerja
mungkin karena kita sudah cape mengurus pindahan jadi sama-sama napsu pas ngeliat (napsu pengen ngamuk). Padahal, rumah yang akan kita kontrak itu sudah dibayar lunas.

Hmmm entahlah apakah rumah itu yang bermasalah atau komunikasi kita sangat buruk.
Gak ada sinyal jadi salah nerima cross call kalo kata orang2 yang bergumul di dunia telekomunikasi. gara2 sebuah kamar kerja halah-halah rurrr biasa perangnya. kadang2 hal kecil jadi tidak termaafkan kalo sedang keluar egonya. tapi kadang2 juga hal yang besar terlupakan begitu saja kala sedang gembira.

Sunday, March 08, 2009

Public Relations Online Perguruan Tinggi

Perguruan Tinggi sebuah lembaga penuh idealisme, sebuah lembaga yang punya harga diri tinggi itulah hal yang mendorongku untuk menulis tesis dengan tema diatas, dikaitkan dengan citra jadilah, Pengaruh Penggunaan Cyber Public Relations di Media Web terhadap pembentukan citra lembaga perguruan tinggi.

disamping itu maraknnya webometrics yang rajin menilai web berdasarkan visibility, rich, siza, dan scholar web-web perguruan tinggi, makin hangat saja isue nya. dalam dua hari menyebarkan angket dan langsung beres. namun, apa yang terjadi ternyata responden menjawab pertanyaan ini dengan kebanyakan ragu-ragu aduuuuuh ancur deh kata dosen pembimbing pertanyaan salah atau diisi sendiri. Angket itu sebenarnya sudah diuji validitas dan reliabilitasnya oke. di isi sendiri? wah paling males ngisi-ngisi angket.

menurutku kemungkinan terbesarnya adalah responden memang ragu-ragu atau tidak tahu adanya fasilitas web dikampusnya. waaaaah kacau mau ngomongin lagi sama ank statistik mendingan ragu-ragu itu dibuat tidak setuju aja hehehehehe berarti tulisan ilmaiah ini sudah mulai ngaco

Ya apapun resikonya tanggunglah oleh peneliti, dalam kaitan ilmu, teknologi dan agama ilmu dan teknologi mengubah sesuatu yang dianggap suci menjadi tidaklah bernilai sebaliknya manusia menganggap teknologi adalah hal yang suci bener gak? (Pemikiran Ellul Jaques)

Thursday, April 24, 2008

Oh Betapa Sulitnya Berkomunikasi

Hari ini marahan lagi :(
ini yang terparah
kronologisnya adalah:
Si Fe minta tolong bikinin seminar untuk mata kuliahnya
entah apa nama mata kuliahnya
yang jelas dia minta dibantuin
Bunda nimbrung diskusi tentang how to make a seminar itu
dan entah mengapa aku kok jadi BT
secara udah cape2 bantu eh gak enak komentarnya
jadilah undur diri saja ke kamar
pas aku dikamar Bunda tiba2 tersinggung
huh susah juga berkomunikasi saat sedang sama2 panas
dan Bunda pun menangis......
Aku jadi enggan meneruskan tugas itu meski udah tanggung
aku jadi males aja
mungkin emang sebaiknya begini
kalau diterusin malah jadinya amburadul

Tuesday, October 04, 2005

KOMUNIKASU BERACUN

Puasa biasanya disambut dengan gembira ria tapi ini,
dengan marahan
gara-gara ah sudahlah

Tuesday, May 24, 2005

PUREL

Ini tulisan tentang seorang PR, yang ideal untuk bisa seperti ini perlu banyak latihan, silakan membaca dan praktiknya jangan lupaaaa, ok!

“Public Speaking” dan Seorang Humoris
Oleh: Maylanny Christin

Siapakah public speaking itu? Apakah ia pesinetron, artis, dokter, wartawan, guru, ustad, atau ibu rumah tanggakah? Siapapun yang hidup bermasyarakat, berorganisasi, dan tinggal dalam sebuah koloni, maka suatu saat pastilah menjadi seorang public speaking, karena Ia akan mengkomunikasikan gagasan, ide atau pendapat pada banyak orang. Sebagai konsekuensi logis karena kita adalah mahluk zoon politicon

Pastilah ada satu kesempatan yang mengharuskan kita menjadi pembicara didepan banyak orang, entah memimpin rapat, menjadi MC, mengajar / memberikan pengarahan dll. Jika kita tidak terbiasa tentunya akan merasa tegang dan sangat tidak nyaman.

Artinya, kita takut akan terlihat buruk, bodoh, gugup dan salah tingkah. Satu diantara sekian banyak cara ampuh mengatasi hal tersebut adalah berhumor ria. Dalam berbicara didepan umum, mengapa kita harus menggunakan humor? Saya ingin berbagi cerita milik mahasiswa.

Pada suatu hari Amalia (bukan nama sebenarnya) diminta untuk menjadi MC pada sebuah acara yang bertajuk “Festifal Ranah Budaya”. Acara ini adalah acara tahunan dikampusnya Dalam acara ini ada beberapa rangkaian kegiatan seperti: pemutaran film, book fair, pertunjukan teater, dan lomba pembacaan puisi.

Pemuturan film waktu itu judulnya BETH, film yang dibintangi artis cantik Ine Febrianti. Sudah tentu audience tampak antusias melihat Ine ‘rela’ makan bareng anjing dan kecoa. Otomatis MC tidak perlu bekerja keras mengatur audiencenya untuk berkonsentrasi menonton film.

Begitu pula saat pemutaran film tersebut sutradara, penulis, dan pemain mengadakan pers conference Karuan saja seluruh audience yang didominasi oleh mahasiswa histeris melihat pemain-pemain dalam Peran MC disini memang agak berat harus membuat penonton yang begitu exited potret sana potret sini, bahkan nyelonong ke podium, agar lebih tertib. Namun, tugas seorang pembawa acara, akan lebih sulit lagi, kalau harus menghidupkan suasana yang mati alias ‘garing ‘ kata orang Sunda.
Dengan jumlah peserta yang puluhan orang dan masing-masing ingin berekspresi dengan judul puisi yang itu-itu saja, bisa dibayangkan bagaimana jenuhnya, berada dalam sebuah aula yang dingin ber – AC dan hanya diterangi lampu berwarna kuning yang reduop. Tentunya akan sangat mudah kita merasa terhanyut oleh kantuk yang tidak tertahankan.

Peserta demi peserta yang asik membacakan puisi karya Remy Sylado berjudul “Jangan Bilang Kontol”. Entah mengapa hampir seluruh peserta memilih puisi itu. Spontanitas Amalia bertanya pada audiencenya: “Katanya jangan bilang kontol)*, tapi kenapa kata itu diucapkan terus? ” kontan semua peserta dan penonton tertawa ada pula yang hanya mesem-mesem senyum dikulum. Ajaibnya berikutnya puisi-puisi yang dibacakan peserta menjadi lebih beragam.

Sebetulnya banyak manfaat yang didapat seorang public speaking lewat humor. Selain, membuat punya sifat humoris, kita juga bisa mengatasi ketegangan yang dihadapi ketika berada dalam forum yang begitu kaku atau terbebani dengan materi yang kompleks yang harus disampaikan. Dengan tawa, stress kita dan audience bisa hilang “Lewat humor, suasana pergaulan jadi cair. Tak heran seorang public speaking yang humoris disukai banyak orang
Tertawalah sebelum Anda memotivasi seseorang, senyumlah bila Anda sedang stres menghadapi susunan acara yang akan Anda pandu. Lemparkan joke-joke ringan yang menggelitik. Daripada muka Anda merah menyala karena malu atau gugup, mulailah hari kerja Anda dengan humor. Disinyalir, tertawa selain obat mujarab juga merupakan perangsang motivasi. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu. Sebab bila terus dipaksakan dengan memikul beban-beban yang berat Ia akan menjadi buta”

(HR Abu Dawud)

Dalam pergaulan sehari-hari orang yang humoris lebih mudah didekati dan cenderung lebih disukai. Charles Metcalf penulis buku lighten Up Survival for people under preasusure, mengatakan bahwa humor adalah bukan semua jenis lelucon yang diiringi tawa. Humor lebih merupakan cara melihat, bereaksi dan berinteraksi terhadap dunia.
Keahlian humor menjadi ciri utama bagi orang-orang yang maju pesat tapi tetap kreatif dan sehat menghadapi situasi yang sangat menekan sekalipun. jangan takut humor Anda akan membuat orang lain tertawa atau tidak, coba saja

(Penulis adalah staf dosen Politeknik Pajajaran Bandung,
mengajar mata kuliah MC Dan Protokoler, jurusan Sekertaris dan Public Relation)