Showing posts with label Psikolinguistik. Show all posts
Showing posts with label Psikolinguistik. Show all posts

Friday, April 03, 2015

Pentingnya Mempelajari Diksi Baru

berkontemplasi dengan kata 

Hari ini pertemuan kedua terakhir memberiak materi kemampuan verbal dalam Tes Potensi Akademik, mungkin beberapa diantara murid menganggap tidak begitu penting kemampuan verbal namun disadari atau tidak kemampuan verbal adalah kemampuan yang dipakai seumur hidup sampai kita tua. Sinonim Antonim, Analgi, Kelompok kata betapa berwarnanya hidup kita dengan berbagai kata baru jadi tidak monoton.

Monday, August 18, 2014

MENGAPA MEME BISA MEMBUAT KITA TERGELITIK?



Ini sengaja saya postingkan di blog, untuk teman yang berada di Papua dan tidak bisa beli koran PR, selamt menikmati :)

Mengapa meme dapat membuat kita tergelitik?


Kemunculan meme tidak dapat dilepaskan dari fenomena sosial dalam masyarakat. Atas dasar itu, untuk memahami sebuah meme, orang yang melihatnya haruslah terlebih dahulu memahami konteks fenomena sosial yang terjadi. Misalnya, baru-baru ini tengah beredar sejumlah meme menyindir pernyataan Taufik Ridho yang mengatakan bahwa Tangkuban Parahu dibuat oleh Roro Jonggrang (terkait dengan pengumpulan data gugatan tim Prabowo-Hatta dalam pilpres 2014). Karena ucapan tersebut dianggap sebagai fenomena sosial yang menarik (seorang tokoh politik salah dalam menyebutkan legenda yang sudah umum diketahui masyarakat), maka berbagai meme tentang itu sontak muncul dan direspon secara massal di jagad dunia mayaHal tersebut berlaku pula pada meme yang melibatkan tokoh populer tertentu seperti Barrack Obama, Yao Ming, Gandalf, Austin Powers hingga Captain Picard. Kemunculan mereka di layar kaca membuat tokoh-tokoh tersebut dikenal oleh masyarakat secara luas. Hal-hal seperti karakter, mimik, suara, hingga gestur, secara umum sudah dimengerti oleh mereka yang sering mengamati media massa. Maka itu, para netizen baru akan faham atau bahkan tergelitik, jika mereka mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut sebelumnya. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa konteks sangat penting bagi kelucuan sebuah meme. 

Friday, February 06, 2009

COGNITIVE NEURO SCIENCE

sepertinya keinginanku untuk kuliah akan terwujud, kemarin seornag teman dari Kendari yang sekarang di Belanda mengirim email yang bikin senang bukan kepalang, "Dear May,ini ada informasi tentang psikolinguistik,Iwan wrote on your Wall:"Ada boss, di Belanda pusatnya di Nijmegen.. Departemennya Cognitive Neuro Science (CNS), jadi disitu ada jurusan psikolinguistik, psikologi, neurolinguistik, neurologi, language and educaton etc. Sekarang saya lagi ngambil satu mata kuliah sama anak2 CNS. Kita beda fakultas tapi ada beberapa mata kuliah yang sharing. Rekomendasikan aja kalo dia mau ke sini. Mantap deh pokoknya soalnya dia kerjasama dengan Max Planc Institute (MPI)."
Salam, amar ma'ruf
p.s. May, silahkan kontak2an ma Pak Iwan ya

nantikan aku di Belanda ya

Thursday, January 22, 2009

Doktor Linguistik



DUA perempuan berturutan menyampaikan pidato pengukuhan guru besar tetap mereka hari Sabtu (28/1) di kampus Universitas Indonesia di Depok. Yang pertama Rahayu Surtiati Hidayat dan yang berikutnya Melani Budianta.
Keduanya, menurut catatan Rektor Universitas Indonesia (UI), adalah guru besar ketiga dan keempat dan perempuan guru besar pertama dan kedua yang dikukuhkan tahun ini. Keduanya akan menambah jumlah 11 guru besar tetap, dua guru besar luar biasa, dan enam guru besar emeritus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) tempat keduanya mengabdi selama ini.
Pengukuhan ini jelas dibutuhkan FIB. Apalagi bidang linguistik terapan yang menjadi keahlian Rahayu Surtiati Hidayat. Dia mengaku sempat kesepian selama 10 tahun sebagai ilmuwan pengajar karena hanya sendirian mendalami bidang itu.
Meskipun demikian, menurut Rahayu, yang akrab dipanggil Yayuk di antara teman dan muridnya, guru besar bukan sesuatu yang dia kejar. "Saya tidak mengejar apa pun. Saya melakukan semua ini karena saya suka. Saya suka menulis, suka menerjemahkan, suka mengajar," kata Rahayu yang menyajikan pidato pengukuhan Humaniora dalam Pengembangan Pendidikan Tinggi. Linguistik Terapan Sebagai Bidang Pendidikan dan Penelitian.
Sendirian
Dalam bahasa yang disederhanakan, Rahayu mengatakan linguistik terapan adalah pengajaran bahasa yang disistematisir. Bidang ini masuk di dalam ilmu humaniora dan lintas batas ilmu karena mendapat banyak sumbangan dari ilmu lain seperti sosiologi, psikologi, antropologi, dan teori informasi.
"Antara tahun 1989, setelah menjadi doktor, sampai tahun 2000 saya sendirian menekuni linguistik terapan. Teman-teman tidak ada yang tertarik," papar Rahayu.
Saat itu masih kuat anggapan di kalangan pengajar bahasa, bila seseorang dapat berbahasa, dia dapat mengajar bahasa. Baru sesudah tahun 2000 Yayuk mendapat mitra setelah sejumlah pengajar FIB kembali dari luar negeri dengan ijazah doktor atau magister dalam linguistik terapan.
?Belakangan FIB lebih profesional. Mengajar bahasa ada landasan teori dan jelas metodenya,? papar Wakil Dekan Bidang Akademik FIB UI sejak tahun 2004 yang selama berkarier di UI terus diminta mengembangkan bidang linguistik terapan.
Di luar universitas, linguistik terapan perlu dikembangkan di tataran nasional sebab pengajaran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris, serta bahasa asing lain di sekolah dasar dan menengah ditentukan oleh politik bahasa yang diterapkan secara nasional dalam pendidikan.
Tidak suka matematika
Awal ketertarikan Rahayu pada bahasa sudah muncul sejak duduk di kelas III sekolah menengah pertama. "Karena saya tidak tertarik pada matematika," papar ibu dari Aria Perbacana (28) dan Rara Tanjung (24) serta istri dari Hidayat Sutarnadi itu.
Yayuk menyukai arkeologi, tetapi ibunya tidak setuju dia memilih bidang itu. ?Ibu beranggapan bidang itu akan membawa saya ke mana-mana dan dapat membahayakan saya,? tutur Rahayu yang menyelesaikan S1-nya dari Fakultas Sastra UI (1971), S2-nya di Universite de Besancon, Perancis (1972), dan S3-nya dari Program Pascasarjana UI (1989).
Meski begitu, Rahayu merasa ayahnya yang polisi dan ibunya yang aktif di Bhayangkari tidak pernah membedakan pendidikan anak perempuan dari anak lelakinya. Tidak heran jika dia menguasai permainan kelereng dan katapel. Bahkan ibunya menyebut dia setengah laki-laki. "Saya sendiri tidak sadar, sampai ketika mengemukakan masalah dan ide-ide, ibu bilang cara berpikir saya seperti anak laki-laki," kata perempuan kelahiran Gading Rejo, Lampung, 26 September 1946.
Di Fakultas Sastra ternyata Rahayu tetap mencintai kegiatan luar ruang dan ikut mendirikan organisasi pencinta alam UI, Mapala. "Waktu Hok Gie meninggal, saya adalah Ketua Mapala UI," kenang Yayuk yang menjadi Ketua Mapala UI pada tahun 1964 dan 1968.
Mungkin itu juga yang membuat penampilannya easy going: membawa tas ransel, kerap bercelana panjang, kadang pakai sepatu bot, tidak dandan. Meskipun begitu, sebagai pengajar dan penerjemah dia terkenal amat ketat dalam logika berbahasa yang adalah bidangnya.
Naskah akademisnya bertebaran di berbagai seminar dan buku, selain juga menerjemahkan 40-an buku asing, antara lain Seks dan Kekuasaan karya Michel Foucault (1997), Kalau Perempuan Angkat Bicara (Annie Leclerc, 1999), dan Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda (Luce Irigaray, 2004).
Karena suka pada hal yang konkret, Yayuk akan terus ditantang mengarahkan agar departemen linguistik di FIB meneliti untuk mendapat perancangan dan terobosan baru dalam pengajaran bahasa.
Dengan demikian, seorang sarjana tidak hanya pandai membuat tulisan akademik, tetapi juga dapat menyajikan pemikirannya dengan menarik dan benar dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris.
Biodata
Nama: Prof Rahayu Surtiati HidayatLahir: Gading Rejo, Lampung, 26 September 1946Suami: Hidayat SutarnadiAnak:- Aria Perbacana (28)- Rara Tanjung (24)
Pendidikan:- S1 dari Fakultas Sastra UI (1971)- S2 dari Universite de Besancon, Perancis (1972)- S3 dari Program Pascasarjana UI (1989).
Pekerjaan:- Guru Besar (Profesor) Tetap Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (2006)- Wakil Dekan Bidang Akademik FIB UI sejak tahun 2004
Sumber: Kompas, 5 Februari 2006